An error has occurred

HUKUM BAGI YANG SENGAJA SHOLAT SHUBUH DILUAR WAKTU | dimasjid

HUKUM BAGI YANG SENGAJA SHOLAT SHUBUH DILUAR WAKTU

Oleh Syaikh Muhammad bin sholih Al-Utsaimin

 

Syaikh Muhammad bin sholih Al-Utsaimin ditanya : Seorang yang bersemangat melaksanakan sholat, hanya saja sering tidur larut malam, maka ia menyeting jam (weker) pada pukul tujuh pagi, yakni setelah terbit matahari, lalu ia sholat, baru kemudian  berangkat beraktivitas. Kadang-kadang pada hari Kamis atau Jum’at, ia bangun lebih telat lagi, yaitu sekitar satu atau dua jam sebelum Zhuhur lalu sholat Shubuh saat bangun tidur. Perlu diketahui pula, bahwa ia selalu sholat di kamar asrama, padahal masjid asrama tidak jauh dari tempat tinggalnya. Pernah ada seseorang yang mengingatkan karena hal itu tidak boleh. Saya berharap Syaikh bisa menjelaskan hukum tersebut. Jazakumullah khoiron.

Jawaban.

Barangsiapa yang sengaja menyeting jam weker pada waktu setelah terbit matahari sehingga tidak melaksanakan sholat Shubuh pada waktunya maka dianggap telah sengaja meninggalkannya, maka ia kafir karena perbuatannya itu menurut kesepakatan ahlul ilmi, semoga Allah melepaskannya dari kebiasan sengaja meninggalkan sholat. Demikian juga orang yang sengaja menangguhkan sholat Shubuh hingga menjelang Zhuhur, kemudian sholat Shubuh pada waktu Zhuhur.

Adapun orang yang ketiduran sehingga terlewatkan waktunya, maka itu tidak mengapa, ia hanya wajib melaksanakannya saat terbangun dan tidak berdosa, demikian juga jika ia ketiduran atau karena lupa. Adapun orang yang sengaja menangguhkannya hingga keluar waktunya, atau dengan sengaja menyeting jam hingga keluar waktunya sehingga mengakibatkan ia tidak bangun pada waktu sholat, maka ia dianggap sengaja meninggalkan, dan berarti ia telah melakukan kemungkaran yang besar menurut semua ulama. Akan tetapi, apakah ia menjadi kafir atau tidak ? Mengenai ini ada perbedaan pendapat di antara ulama jika ia tidak mengingkari kewajibannya. Jumhur ulama berpendapat bahwa itu tidak menjadikannya kafir dengan kekufuran besar tersebut. Sebagian ahlul ilmi berpendapat bahwa ia menjadi kafir karena kekufuran yang besar tersebut, demikian pendapat yang dinukil dari para sahabat Rodhiyallahu Ajmain, Nabi shollallahu ‘alaihi wa salam bersabda.

“Sesungguhnya (pembatas) antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan sholat”. Shohih Imam Muslim dalam kitab Al-Iman : 82

Dalam hadits lain Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Perjanjian antara kita dengan mereka adalah sholat, maka barangsiapa yang meninggalkannya berarti ia telah kafir”. Dikeluarkan oleh Imam Ahmad 5/346 dan para penyusun kitab Sunan dengan isnad shohih; At-Tirmidzi 2621, An-Nasa’i 1/232, Ibnu Majah 1079.

Lain dari itu meninggalkan sholat jama’ah merupakan suatu kemungkaran, ini tidak boleh dilakukan. Yang wajib bagi seorang mukallaf adalah melaksanakan sholat di masjid, berdasarkan riwayat dalam hadits Ibnu Ummi Maktum, bahwa seorang laki-laki buta berkata kepada Rosulullah, “Wahai Rosulullah, tidak ada orang yang menuntunku pergi ke masjid”. Ia minta kepada Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam untuk diberi keringanan agar bisa sholat di rumahnya, maka beliau mengizinkan, namun ketika orang itu hendak beranjak, beliau bertanya:

“Apakah engkau mendengar seruan untuk sholat ? ia menjawab, ‘Ya’, beliau berkata lagi, ‘Kalau begitu, penuhilah”. Hadits Riwayat Muslim, kitab Al-Masajid 653.

Itu orang buta yang tidak ada penuntunnya, namun demikian Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam tetap memerintahkannya untuk sholat di masjid. Maka orang yang sehat dan dapat melihat tentu lebih wajib lagi. Maksudnya, bahwa diwajibkan atas setiap Mukmin untuk sholat di masjid dan tidak boleh meremehkannya dengan melaksanakan sholat di rumah jika masjidnya dekat.

Dalil lain tentang hal ini adalah sabda Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Barangsiapa yang mendengar adzan lalu ia tidak memenuhinya, maka tidak ada sholat baginya, kecuali karena udzur”. Dikeluarkan oleh Ibnu Majah, kitab Al-Masajid 793, Ad-Daru Quthni 1/420,421 Ibnu Hibban 2064, Al-Hakim 1/246, dari Ibnu Abbas dengan isnad sesuai syarat Muslim.

Ibnu Abbas Rodhiyallahu anhu pernah ditanya tentang udzur ini, ia menjawab, “Takut atau sakit”

Syaikh Muhammad bin sholih Al-Utsaimin ditanya: Ada seorang pemuda multazim, Alhamdulillah, namun ia sering kelelahan karena pekerjaannya sehingga ia tidak dapat melaksanakan sholat Shubuh pada waktunya karena sangat kelelahan dan kecapaian. Bagaimana hukumnya menurut Syaikh tentang orang yang kondisinya seperti itu, dan apa pula nasehat Syaikh untuknya ? Jazzkumullah khoiaron.

Jawaban.

Yang wajib baginya adalah meninggalkan pekerjaan yang menyebabkan menangguhkan sholat Shubuh, karena sebab musabab itu ada hukumnya, jika ia tahu bahwa apabila ia tidak terlalu keras bekerja tentu ia bisa melaksanakan sholat Shubuh pada waktunya, maka ia wajib untuk tidak memaksakan dirinya bekerja keras agar ia bisa sholat Shubuh pada waktunya bersama kaum muslimin.

Sumber Buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Harom, Penyusun Kholid Al-Juraisy, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penerjemah Musthofa Aini, Penerbit Darul Haq

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>