KUMPULAN DALIL DAN ADAB SHOLAT JUMAT

Oleh Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Kholafi

 

Melaksanakan sholat Jum’at adalah fardhu ‘ain bagi setiap muslim, kecuali lima orang: hamba sahaya, wanita, anak-anak, orang sakit, dan musafir. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sholat pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” al-Jumu’ah: 9.

Dari Thoriq bin Syihab, dari Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

اَلْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِيْ جَمَاعَةٍ إِلاَّ أَرْبَعَةٌ: عَبْدٌ مَمْلُوْكٌ، أَوِ امْرَأَةٌ، أَوْ صَبِيٌّ، أَوْ مَرِيْضٌ.

“sholat Jum’at dengan berjama’ah wajib bagi setiap muslim kecuali empat orang: hamba sahaya, wanita, anak-anak, atau orang sakit.” [1]

Dari Ibnu ‘Umar Rodhiyallahu anhu, dari Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

لَيْسَ عَلَى الْمُسَافِرِ جُمُعَةٌ.

“sholat Jum’at tidak wajib bagi musafir.” [2]

Anjuran Untuk Melaksanakannya

Dari Abu Huroiroh Rodhiyallahu anhu, dari Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

مَنِ اغْتَسَلَ ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ فَصَلَّى مَا قُدِّرَ لَهُ، ثُمَّ أَنْصَتَ حَتَّى يَفْرُغَ مِنْ خُطْبَتِهِ، ثُمَّ يُصَلِّيْ مَعَهُ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ اْلأُخْرَى وَفُضِّلَ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ.

“Barangsiapa mandi, kemudian datang ke masjid untuk sholat Jum’at, lalu sholat (sunnah) semampunya. Setelah itu diam sambil mendengarkan Khotib berkhutbah hingga selesai, lantas sholat berjama’ah bersamanya, maka diampunilah dosanya ketika itu hingga Jum’at yang akan datang, dan dilebihkan tiga hari.”[3]

Dan juga darinya, dari Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

اَلصَّلَوَاتُ الْخَمْسِ، الْجُمُعَةُ إِلَـى الْجُمُعَةِ، وَرَمَضَـانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ.

“Sholat lima waktu, dari (sholat) Jum’at ke (sholat) Jum’at yang lain, dan dari (puasa) Romadhon ke (puasa) Romadhon yang lain adalah penghapus dosa-dosa kecil di antara waktu-waktu tersebut selama tidak melakukan dosa besar.”[4]

Peringatan agar tidak menyepelekannya

Dari Ibnu ‘Umar dan Abu Huroiroh Rodhiyallahu anhuma, mereka berdua mendengar Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda di atas mimbar kayunya:

لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمُ الْجُمُعَـاتِ أَوْ لَيَخْتِمَنَّ اللهُ عَلَى قُلُوْبِهِمْ ثُمَّ لَيَكُوْنُنَّ مِنَ الْغَافِلِيْنَ.

“Hendaklah orang-orang benar-benar berhenti meninggalkan sholat Jum’at. Atau Allah akan menutup hati mereka sehingga mereka benar-benar menjadi orang-orang yang lalai.”[5]

Dari ‘Abdullah, Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada orang-orang yang meninggalkan sholat Jum’at:

لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ رَجُلاً يُصَلِّيْ بِالنَّـاسِ، ثُمَّ أَحْرِقُ عَلَى رِجَالٍ يَتَخَلَّفُوْنَ عَنِ الْجُمُعَةِ بُيُوْتَهُمْ.

“Aku benar-benar ingin menyuruh seseorang agar mengimami manusia. Kemudian aku bakar rumah seluruh laki-laki yang meninggalkan sholat Jum’at.” [6]

Dari Abu Ja’d adh-Dhomri Rodhiyallahu anhu, Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَْنْ تَرَكَ ثَلاَثَ جُمَعٍ تَهَاوُنًا بِهَا طَبَعَ اللهُ عَلَى قَلْبِهِ.

“Barangsiapa meninggalkan tiga kali sholat Jum’at karena menyepelekannya, Allah akan menutup hatinya.” [7]

Dari Usamah bin Zaid Rodhiyallahu anhu, dari Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

مَنْ تَرَكَ ثَلاَثَ جُمُعَاتٍ مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ كُتِبَ مِنَ الْمُنَافِقِيْنَ.

“Barangsiapa meninggalkan tiga kali sholat Jum’at tanpa ‘udzur, maka dia dicatat dalam golongan orang-orang munafik.” [8]

Waktu Sholat Jum’at

Waktunya sebagaimana sholat Zhuhur, namun dibolehkan sebelumnya

Dari Anas Rodhiyallahu anhu :

“Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam sholat Jum’at ketika matahari sedang tergelincir.” [9]

Dari Jabir bin ‘Abdullah Rodhiyallahu anhu, dia ditanya,

“Kapan Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam sholat Jum’at?” Dia menjawab, “Setelah beliau melakukan sholat tersebut, lantas kami mendatangi unta-unta kami. Lalu kami menjalankannya sedang matahari tergelincir.”[10]

Khutbah Jum’at

Hukumnya wajib. Karena beliau senantiasa melakukannya dan tidak pernah meninggalkannya sama sekali. Juga berdasarkan sabda beliau:

صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ أُصَلِّيْ.

“sholatlah kalian sebagaimana kalian melihatku sholat.”[11]

1. Petunjuk dalam khutbah

Beliau pernah bersabda:

إِنًَّ طُوْلَ صَلاَةِ الرَّجُلِِ وَقِصَرَ خُطْبَتِهِ مَئِنَّةٌ مِنْ فِقْهِهِ، فَأَطِيْلُوا الصَّلاَةَ وَاقْصُرُوا الْخُطْبَةَ، وَإِنَّ مِنَ الْبَيَانِ لَسِحْرًا.

“Sesungguhnya panjang sholat dan singkatnya khutbah seseorang menunjukkan kefaqihannya (kefahamannya). Maka panjangkan sholat dan persingkatlah khutbah. Sesungguhnya kata-kata yang indah ibarat sihir.” [12]

Dari Jabir bin Samurah, dia berkata,

“Aku pernah sholat bersama Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam selama beberapa kali. sholat dan khutbah beliau seimbang.” [13]

Dari Jabir bin ‘Abdullah Rodhiyallahu anhu, dia berkata,

“Jika Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah, kedua mata beliau memerah, suaranya meninggi, dan semangatnya berkobar. Seolah-olah beliau memperingatkan pasukan sambil berkata, “Musuh kalian akan datang pada pagi dan petang!” [14]

2. Khutbatul Haajah

Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam mengawali khutbah, nasihat, dan ceramah, serta berbagai pelajarannya dengan khutbah ini, yaitu yang dikenal dengan khutbatul Haajah. Bunyinya sebagai berikut:

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِـاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْـكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

Sesungguhnya, segala puji hanya bagi Allah. Kami memujinya, memohon pertolongan dan ampunan-Nya. Kami juga berlindung kepada-Nya dari kejahatan jiwa kami, serta keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa ditunjuki oleh Allah, maka tidak ada yang mampu menyesatkannya. Dan barangsiapa disesatkan oleh-Nya, maka tidak ada yang mampu menunjukinya. Aku bersaksi bahwasanya tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah semata. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” Ali ‘Imran: 102.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Robb-mu yang telah menciptakan kamu dari jiwa yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (menggunakan) Nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.” An-Nisaa’: 1.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rosul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” Al-Ahzaab: 70-7.

أَمَّا بَعْدُ:

فَإِنًَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرُ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

Sesungguhnya sebenar-benar ucapan adalah Kitabullah. Dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam. Seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan (dalam agama). Karena setiap pekara yang diada-adakan adalah bid’ah. Dan setiap bid’ah adalah sesat. Dan setiap kesesatan tempatnya di Neraka.

“Barangsiapa merenungkan khutbah-khutbah Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam beserta para ٍSahabatnya, maka dia akan mendapatkan banyak pelajaran tentang petunjuk, tauhid, sifat-sifat Allah Azza wa Jalla, pokok-pokok iman secara menyeluruh, dan dakwah ke jalan Allah. Begitupula nikmat-nikmat-Nya yang membuat para makhluk cinta kepada-Nya, juga hari pembalasan beserta adzab-adzab yang menakutkan. Terdapat juga perintah terhadap makhluk agar senantiasa berdzikir dan bersyukur kepada-Nya. Hal ini membuat mereka dicintai Allah. Sehingga mereka selalu ingat dengan keagungan Allah, sifat-sifat, dan asma’-Nya yang membuat-Nya cinta kepada para hamba-Nya. Lalu mereka pun diperintahkan agar taat, bersyukur, dan berdzikir. Hal ini membuat mereka cinta kepada-Nya. Setelah itu para pendengar akan pulang dengan peRosaan cinta kepada Allah, dan Allah pun mencintai mereka. Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam seringkali menyampaikan khutbah dengan al-Qur-an dan surat Qaaf.” [15]

Ummu Hisyam binti al-Harits bin an-Nu’man Rodhiyallahu anhu berkata,

“Tidaklah aku menghafal surat Qaaf melainkan dari lisan Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam saat menyampaikan khutbah dengan surat tersebut di atas mimbar.” [16]

3. Wajibnya diam dan larangan berbicara ketika khutbah berlangsung

Dari Abu Hurairah Rodhiyallahu anhu, Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا قُلْتَ لِصَـاحِبِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَنْصِتْ وَاْلإِمَـامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ.

“Jika pada hari Jum’at, saat Khotib sedang khutbah engkau berkata pada temanmu “diam!”, maka engkau telah mengucapkan kata yang sia-sia (perkataan yang bathil).” [17]

4. Kapankah seseorang dianggap masih mendapatkan sholat Jum’at?

sholat Jum’at terdiri dari dua raka’at yang dikerjakan secara berjama’ah. Barangsiapa meninggalkan jama’ah sholat Jum’at karena memang tidak wajib baginya atau ada halangan, maka dia sholat Zhuhur empat raka’at. Barangsiapa mendapati satu raka’at sholat Jum’at bersama imam, maka dia telah mendapatkan sholat Jum’at.

Dari Abu Hurairah Rodhiyallahu anhu, Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنْ صَلاَةِ الْجُمُعَةِ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلاَةَ.

“Barangsiapa mendapati satu roka’at dari sholat Jum’at, maka dia telah mendapatkan sholat.” [18]

5. sholat sunnah sebelum dan sesudah sholat Jum’at

Dari Abu Hurairah Rodhiyallahu anhu, dari Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

مَنِ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ثُمَّ أَتَـى الْجُمُعَةَ فَصَلَّى مَا قُدِّرَ لَهُ، ثُمَّ أَنْصَتَ حَتَّـى يَفْرُغَ مِنْ خُطْبَتِهِ، ثُمَّ يُصَلِّي مَعَهُ، غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ اْلأُخْرَى وَفُضِّلَ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ.

“Barangsiapa mandi pada hari Jum’at, kemudian datang ke masjid untuk sholat Jum’at, lalu sholat (sunnah) semampunya. Setelah itu diam sambil mendengarkan Khotib berkhutbah hingga selesai, lantas sholat berjama’ah dengannya, maka di-ampunilah dosanya antara Jum’at itu dan Jum’at yang lain, dan dilebihkan tiga hari.” [19]

Barangsiapa datang sebelum sholat Jum’at dimulai, maka hendaklah sholat sunnah semampunya hingga imam tiba. Adapun yang pada zaman ini dikenal sebagai sholat sunnah qobliyyah Jum’at, maka tidak ada dasarnya sama sekali. Sesungguhnya yang dikenal adalah:

“Jika Bilal selesai adzan, maka Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam memulai khutbah. Tidak seorang pun melakukan sholat dua raka’at. Tidak pula terdapat adzan melainkan satu kali. Jadi, kapan mereka melakukan sholat sunnah tersebut?” [20]

Adapun seusai sholat Jum’at, maka boleh sholat empat atau dua raka’at sesuai keinginan.

Dari Abu Huroiroh Rodhiyallahu anhu, dia mengatakan bahwa Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمُ الْجُمُعَةَ فَلْيُصَلِّ بَعْدَهَا أَرْبَعًا.

“Jika salah seorang di antara kalian telah melaksanakan sholat Jum’at, maka hendaklah sholat empat raka’at sesudahnya.” [21]

Dari Ibnu ‘Umar Rodhiyallahu anhu : “Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam tidak sholat setelah Jum’at hingga beliau pulang dan sholat dua raka’at di rumahnya.”[22]

Sumber: kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Kholafi, Edisi Indonesia Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA – Jakarta, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 – September 2007.

_______

Referensi

[1]. Shohih: Shohih Sunan Abu Dawud (no. 942)], Shohiihul Jaami’ush shoghiir (no. 3111), Sunan Abu Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/394 no. 1054), ad-Daraquthni (II/3 no. 2), al-Baihaqi (III/172), dan Mustadrak al-Hakim (I/288).

[2]. Ad-Daraquthni (II/4 no. 4).

[3]. Shohih: Shohiihul Jaami’ush shoghiir (no. 6062), shohiih Muslim (II/587 no. 857).

[4]. Shohih: Shohiihul Jaami’ush shoghiir (no. 3875), Shohiih Muslim (I/209 no. 233 (16)), dan Sunan at-Tirmidzi (I/138 no. 214), tanpa kalimat: “وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ (dan Romadhon ke Romadhon).”

[5]. Shohih: Shohiihul Jaami’ush shoghiir (no. 5480), Shohiih Muslim (II/591 no. 865), dan Sunan an-Nasa-i (III/88).

[6]. Shohih: Shohiihul Jaami’ush shoghiir (no. 5142), Shohiih Muslim (I/452 no. 652).

[8]. Hasan shohih: Shohih Sunan Abu Dawud (no. 923), Sunan Abu Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/377 no. 1039), Sunan at-Tirmidzi (II/5 no. 498), Sunan an-Nasa-i (III/88), dan Sunan Ibni Majah (I/357 no. 1125).

[9]. Shohih: Sshohiihul Jaami’ush shoghiir (no. 6144), ath-Thobroni dalam ash-shogiir (I/170 no. 422).

[10]. Shohih: Shohih Sunan Abu Dawud (no. 960), Shohiih al-Bukhori (Fat-hul Baari) (II/386 no. 904), Sunan Abu Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/427 no. 1071), dan Sunan at-Tirmidzi (II/7 no. 501).

[11]. Shohih: Irwaa’ul Ghaliil (no. 597), Shohiih Muslim (II/588 no. 858 (29)).

[12]. Shohih: Irwaa’ul Ghaliil (no. 262), Shohiih al-Bukhori (Fat-hul Baari) (II/111 no. 631).

[13]. Shohih: Shohiihul Jaami’ush shoghiir (no. 2100), Irwaa’ul Ghaliil (no. 618), shohiih Muslim (II/594 no. 869).

[14]. Shohih: Shohih Sunan at-Tirmidzi (no. 418), Shohiih Muslim (II/591 no. 886), dan Sunan at-Tirmidzi (II/9 no. 505).

[15]. Shohih: Shohiihul Jaami’ush shoghiir (no. 4711), Irwaa’ul Ghaliil (no. 611), shohiih Muslim (II/591 no. 866), dan Sunan at-Tirmidzi (II/9 no. 505).

[16]. Zaad al-Ma’aad (I/116).

[17]. Muttafaq ‘alaihi: Shohiih al-Bukhori (Fat-hul Baari) (II/414 no. 934)], shohiih Muslim (II/582 no. 851), Sunan an-Nasa-i (III/104), Sunan Ibni Majah (I/352 no. 1110), Sunan Abu Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/460 no. 1099) secara ringkas, dan Sunan at-Tirmidzi (II/12 no. 5111) dengan lafazh yang mirip.

[18]. Shohih: Shohiih Sunan Ibni Majah (no. 911), Sunan an-Nasa-i (III/112), dan Sunan Ibni Majah (I/356 no. 1110) dengan lafazh yang serupa.

[19]. Shohih: Irwaa’ul Ghaliil (no. 622), Shohiihul Jaami’ush shoghiir (no. 5999), Sunan an-Nasa-i (III/112), dan Sunan Ibni Majah (I/356 no. 1121) dengan lafazh yang serupa.

[20]. Shohih: Shohiihul Jaami’ush shoghiir (no. 6062)], Shohiih Muslim (II/587 no. 857).

[21]. Zaad al-Ma’aad (I/118).

[22]. Shohih: Irwaa’ul Ghaliil (no. 625), Shohiihul Jaami’ush shoghiir (no. 640), Shohiih Muslim (II/600 no. 882), dan lafazh ini miliknya, Sunan Abu Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/481 no. 1118), dan Sunan at-Tirmidzi (II/17 no. 522).

[23]. Muttafaq ‘alaihi: Shohiih Muslim (II/600 no. 822 (71)), Shohiih al-Bukhori (Fat-hul Baari) (II/425 no. 937), dalam riwayatnya tidak terdapat lafazh: “Di rumahnya.”

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>