MASK Menjadi Lokasi Favorit Mualaf di Jakarta Untuk Mengucap syahadat

Semenjak Tragedi 9/11 masyarakat non-muslim makin penasaran dengan dunia Islam, hal ini membuka kesempatan masyarakat non-muslim di negara-negara barat untuk mengenal islam.

Dampaknya gelombang mualaf tidak saja terjadi di beberapa negara Barat, di Indonesia yang berpenduduk mayoritas muslim pun, semangat warga non-muslim untuk belajar Islam berbuah syahadat untuk memeluk Islam.

Di masjid yang terletak di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Masjid Sunda Agung Kelapa menjadi salah satu saksi banyaknya warga Jakarta non-muslim yang akhirnya bersyahadat. Ketua Pembina Paguyuban Mualaf, H Anwar Sujana bercerita  sekitar 30 orang bersyahadat setiap bulannya, dari segi usia, kebanyakan dari mereka berasal dari kelas ekonomi menengah ke atas. “Kami terima laporan setiap akhir bulan, kalau bulan Juni ada 33 orang. Untuk Ramadan tahun ini kan baru berjalan dua hari. Tapi kalau selama bulan Juli sampai tanggal ini sudah ada 22 orang mualaf di Masjid Sunda Kelapa, usianya beragam, tapi kebanyakan sudah dewasa, ya 30 tahun ke atas. Dan memang kebanyakan kelas menengah ke atas dan sudah punya profesi. Ada dokter, dosen, guru, dan juga ada pengusaha. Untuk bulan Juni kemarin yang dari dhuafa hanya ada 1 orang” ujar H Anwar Senin (23/7/2012).

Tidak hanya masyarakat Jakarta,Warga Negara Asing (WNA) pun memutuskan memeluk Islam di Masjid Agung Sunda Kelapa. Menurut H Anwar, bulan Juni saja ada 11 orang WNA yang masuk Islam di masjid ini. “Kalau data yang bulan kemarin, ada 11 orang WNA. Beberapa memang tinggal di sini, sudah kerja di Jakarta. Berasal dari berbagai negara, ada yang Amerika, Australia. Tapi kebanyakan Inggris,” jelas H Anwar.

Setelah mengucap syahadat, para mualaf segera mendapat pembinaan dari pihak Masjid Agung Sunda Kelapa. Empat materi wajib diperkenalkan kepada para mualaf yakni, studi dasar Islam, Ibadah, Aqidah akhlaq, dan pengenalan Alquran. Untuk waktu pelaksanaan pengajaran, disesuaikan dengan jadwal para mualaf itu sendiri. “Studi dasar Islam dijalankan seharian mulai pukul 09.00 pagi sampai maghrib, materinya tentang Ibadah, tentang sholat, keutamaan sholat dan cara-cara sholat misalnya. Lalu materi tentang Aqidah akhlaq seperti rukun iman dan rukun Islam, serta penjelasannya. Tidak lupa juga pengenalan Alquran sebagai dasar hukum Islam, apa isi dan kandungannya,” tambahnya.

Selain empat materi wajib tersebut, terdapat dua materi tidak wajib yang bisa didapat para mualaf yang asalnya beragama Kristen. Dua materi tersebut adalah tentang sejarah kristen dan aturan fiqh bagi wanita. “Tentang sejarah kristen akan dijelaskan dari sisi Al quran. sejarah Nabi Isa AS dan Maryam sesuai Al quran. selanjutnya hukum-hukum fiqh bagi wanita. Keduanya tidak wajib diikuti, tapi kalau bersedia akan kami berikan materinya,” lanjut Anwar.

Tidak semua mualaf terbuka akan masa lalu mereka, namun yang menarik salah satu dari mereka adalah seorang pendeta yang tertarik ke dalam islam setelah mempelajari injil di Israel.”Beberapa mereka ingin menutup masa lalu mereka, jadi tidak ingin bercerita tentang kehidupannya. Namun ada salah seorang bercerita yang menarik tentang alasannya memilih Islam, ini tentang seorang pendeta yang akhirnya memilih Islam. Dia lulusan S2 Teologi, dia sudah belajar tentang Injil hingga ke Israel. Saat itu dia bilang ke saya, saya masuk Islam bukan karena saya belajar Al quran, tapi justru karena saya belajar Injil,” pungkas H anwar.

Sumber: detik.com

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>