NASIHAT KEPADA ORANG YANG TIDAK MAU SHOLAT BERJAMA’AH

Oleh: Syaikh Muhammad bin sholih Al-Utsaimin

Nasihatku, bahwasanya Allah berfirman kepada Nabi-nya Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam :

وَإِذَا كُنتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلَاةَ فَلْتَقُمْ طَائِفَةٌ مِّنْهُم مَّعَكَ وَلْيَأْخُذُوا أَسْلِحَتَهُمْ فَإِذَا سَجَدُوا فَلْيَكُونُوا مِن وَرَائِكُمْ وَلْتَأْتِ طَائِفَةٌ أُخْرَىٰ لَمْ يُصَلُّوا فَلْيُصَلُّوا مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا حِذْرَهُمْ وَأَسْلِحَتَهُمْ

Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan sholat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (sholat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang sholat besertamu) sujud (telah menyempurnakan satu roka’at), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum melaksanaakan sholat, lalu sholat-lah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senja, An Nisa’ : 102.

(Dalam ayat ini), Allah Azza wa Jalla memerintahkan agar melaksanakan sholat berjama’ah, meskipun dalam kondisi perang, bahkan ketika sedang berjibaku dengan musuh. Ini menunjukkan, bahwa sholat secara berjama’ah itu wajib hukumnya dalam kondisi aman. Dan dalam hadits yang shohih, dari Nabi shollallahu alaihi wa sallam :

لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِالصَّلَاةِ فَتُقَامَ ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فَيُصَلِّيَ بِالنَّاسِ ثُمَّ أَنْطَلِقَ مَعِي بِرِجَالٍ مَعَهُمْ حُزَمٌ مِنْ حَطَبٍ إِلَى قَوْمٍ لَا يَشْهَدُونَ الصَّلَاةَ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ بِالنَّارِ

Sungguh aku ingin memerintahkan agar sholat ditegakkan, lalu aku akan menyuruh salah seorang untuk mengimami sekelompok manusia. Kemudian aku pergi bersama beberapa orang yang membawa seikat kayu bakar menuju orang-orang yang tidak menghadiri sholat berjama’ah, lalu aku akan membakar rumah-rumah mereka.

Keinginan beliau shollallahu ‘alaihi wa sallam untuk memberikan sangsi yang berat ini menunjukkan, bahwa meninggalkan sholat berjama’ah itu dosa besar. Sampai-sampai sebagian ulama, di antara Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan :

“Seseorang, jika meninggalkan sholat berjama’ah tanpa alas an syar’i, maka sholatnya tidak sah, meskipun dia sholat seribu kali”.

Beliau rahimahullah menyebutkan “berjama’ah” menjadi syarat sahnya (*) sholat.

Diterjemahkan dari Majmu’ Fatawa wa Rosail, Fadhilatis Syaikh Muhammad bin sholih al ‘Utsaimin (15/28)

Sumber: Majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun X/1427H/2006M Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta

_______

Catatan:

*Di tempat yang lain, setelah menerangkan perbedaan pendapat ulama tentang HUKUM JAMA’AH dalam sholat, Syaikh Muhammad bin sholih Al-Utsaimin merajihkan pendapat yang menyatakan bahwa jama’ah bukan syarat sah sholat dengan dasar hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dalam kitan Adzan bab Fadhlu sholati Jama’ah no. 640 dan diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Al-Masajid bab Fadhlu Jama’ah no. 650 (Lihat Kitab Majmu’ Fatawa wa Rasa’il Fadhilatis Syaikh Muhammad bin sholih Al Utsaimin 15/18-19

HUKUM BAGI MAJIKAN YANG MELARANG PEKERJANYA SHOLAT BERJAMAAH

Pertanyaan.

Syaikh Muhammad bin sholih Al-Utsaimin ditanya : Bagaimana pendapat anda tentang hukum majikan yang melarang para pekerja yang sedang sibuk bekerja pada mereka di rumah untuk mengikuti sholat jama’ah di masjid, lalu menyuruh para pekerja itu untuk sholat di rumah dan tidak mengizinkan keluar.

 

Jawaban.

Orang-orang yang mempunyai para pekerja, seharusnya menekankan mereka untuk sholat jama’ah, karena di situ terkandung pahala dan kebaikan yang banyak, dan ini termasuk katagori tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan. Allah Azza wa Jalla telah berfirman.

Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. Al-Ma’idah : 2

Tidak dibenarkan mereka melarang para pekerja itu untuk melakukan sholat jama’ah, karena sholat jama’ah itu kewajiban syari’at, dan kewajiban syari’at itu harus dikecualikan (tidak kerja) dari jam kerja di kalangan kaum Muslimin, karena mentaati Allah dan Rosul-nya harus didahulukan daripada menta’ati manusia. Tapi jika pekerja itu terhalangi oleh untuk melaksanakan sholat secara berjama’ah dan tidak punya cara lain untuk berlepas dari pekerjannya, maka dalam kondisi seperti itu dibolehkan, karena ia terhalangi bukan karena kehendaknya, yaitu karena jika ia meninggalkan pekerjaannya maka akan menimbulkan bahaya.

Sumber: Buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, Penyusun Khalid Al-Juraisu, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penerjemah Musthofa Aini, Penerbit Darul Haq

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>